• Home »
  • Berita »
  • Menteri Lukman: Yang Puasa dan Tidak Puasa Harus Saling Menghormati

Menteri Lukman: Yang Puasa dan Tidak Puasa Harus Saling Menghormati

Jakarta (Suara-Islam) — Berbeda dengan tahun lalu yang mengeluarkan pernyataan kontroversial “hormati yang tidak berpusa”, jelang Ramadhan 1437 H ini Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengeluarkan pernyataan yang lebih “moderat”: orang yang berpuasa dan tidak harus saling menghormati.

Menurut Lukman, orang yang tidak berpuasa harus menghormati mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sebaliknya, orang yang sedang berpuasa juga harus menghormati  hak mereka yang sedang tidak berpuasa.

“Jadi harus ada toleransi, saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada pada pihak lain,” demikian penegasan Menag Lukman usai menjadi narasumber pada #kopdarmenag tentang #maknaicinta di rumah dinas WIdya Chandra, Jakarta, Sabtu (04/06/2016).

Disinggung soal warung makan yang tetap buka, Menag mengatakan bahwa kalau memang harus buka karena untuk memenuhi kebutuhan sesama warga bangsa yang tidak sedang berpuasa, maka tentu harus dilakukan dengan penuh kearifan. Misalnya, lanjut Menag, sebagian besar warung itu ditutup sehingga orang yang berpuasa juga bisa beribadah dengan nyaman.

“Umat beragama apapun ketika sedang menjalankan ibadah, kita sepantasnya menghormati yang sedang beribadah. Tapi yang sedang menjalankan ibadah pun juga akan sangat baik kalau juga  bisa menghargai dan menghormati yang tidak sedang berpuasa,” ujarnya.

Menurut Menag, tidak semua warga Indonesia berkewajiban berpuasa, tergantung agama yang dianutnya.  Bahkan yang beragama Islam sekalipun, tidak semuanya berpuasa karena beberapa sebab, antara lain dalam perjalanan (musafir), sedang sakit, wanita yang sedang hamil, menyusui, atau menstruasi dan lainnya.

Membuka warung makan  pun menjadi hak orang yang bekerjasanya memang sebagai penjual makanan. Apalagi kalau itu adalah satu-satunya mata pencaharian baginya untuk manafkahi keluarga. “Kita kan juga harus mempunyai tenggang rasa dan empati,” terangnya.

Terkait sweeping, Menag berharap  seperti tahun lalu, tidak ada yang melakukan sweeping pada puasa tahun ini. Menurutnya, semua pihak harus lebih mendahulukan tenggang rasa sehingga tidak perlu mengudang pihak lain untuk menempuh cara instan apalagi dengan menggunakan kekerasan dan sweeping.

“Jadi tanpa harus sweeping, semua kita bisa saling menghargai antara satu dengan yang lain,” tandasnya.

sumber: kemenag.go.id