Ramadhanku, Ramadhanmu

Oleh : Riki Nasrullah

Marhaban Ya Ramadhan…

Marhaban Ya Syahrul Shiam…

Marhaban Ya Syahrul Mubarok….

Bulan Ramadhan, yang dinanti, kembali tiba. Seperti perkataan kebanyakan orang bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang suci yang kehadirannya sangat diharapkan oleh seluruh kaum muslimin. Kedatangan bulan suci ini sangat berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan setiap muslim. Banyak orang yang mengatakan bahwa bulan ramadhan adalan bulan perubahan pun sangatlah benar adanya. Perubahan pun terjadi di mana-mana. Bahkan sampai bisa kita katakan sebagai kondisi “syndrome beriman mendadak”.

Mengapa sampai ada istilah seperti itu? bagaimana tidak, di awal-awal bulan ramadhan masjid-masjid dipenuhi orang muslim yang hendak melaksanakan ibadah shalat teraweh, mushola-mushola ramai dengan bacaan al-qur’an, di setiap malamnya tidak pernah semalam pun yang sepi akan bacaan al-quran.

Di suatu sudut akan kita temui kehidupan artis yang mendadak jadi (seolah-olah) beriman, akhwat-akhwat banyak yang lebih menutup aurat, bahkan judul-judul sinetron pun berubah drastis. Yang awalnya berjudul “romeo dan Juliet” sekarang berubah menjadi “aqsa dan madina”, yang dulu judulnya “Tersayang dan tersanjung” sekarang berubah menjadi “tasbih cinta”, dll.

Kadang kala kondisi seperti itu membuat hati kita cekikikan melihat tingkah pola ummat yang seperti itu. namun kalau kita tarik simpulan, ternyata fakta tersebut merupakan bukti sangat jauhnya hati mereka dengan keimanan yang sesungguhnya.

Bulan Ramadhan juga memang sangat ajaib, ia bisa mengubah orang muslim menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi di sudut yang lain hal ini sangat menyebabkan kesedihan mendalam dalam hati bak luka disiram air garam. Karena ramadhan kali ini kita masih disemayami oleh pemikiran kapitalisme dan liberalisme yang bisa saja sesegera mungkin menjerumuskan ummat ke jurang kegelapan yang paling dalam tanpa menyisakan setetes air mata yang mampu disinari sinar mentari sedikitpun.

Pemikiran sekularisme telah sukses membanting pemikiran ummat dengan pemikirannya bahwa seakan-akan Allah hanya melihat hamba-Nya di bulan ramadhan saja Dan bahwasanya Allah pergi meninggalkan manusia, dan tak lagi menghitung amalannya selain pada bulan ini. ini pemikiran yang bertentangn dengan fitrah keberadaan Allah SWT. karena Allah mampu menyaksikan di mana pun dan kapan pun hamba-Nya berada.

Berpuluh-puluh kali kita lewati bulan ramadhan ini, namun ternyata usaha kita (para pengemban dakwah) belum membuahkan hasil yang sesungguhnya. Atau mungkin itu hanyalah prasangka kita saja. faktanya perhitungan Allah tidak sama dengan perhitungan manusia.

Dalam bahasa Arab ada pepatah seperti ini : “malam yang paling gelap justru malam menjelang fajar tiba”. Ternyata dalam alam sadar kita, kita hanya bisa mencerca upaya dan usaha yang dirasa belum maksimal. Perasaan yang berharap pertolongan Allah sedangkan jiwa belum layak menerima hal itu. memang dirasa ketika kita menunjukkan cahaya bagi ummat yang sudah terlalu lama berjalan dalam kegelapan sama saja menambah rasa sakit mereka.

Kita bisa melihat kehidupan mereka yang lebih senang berjalan dalam kegelapan bermandikan kedzaliman dibanding bersandarkan kepada cahaya Islam. Kita bisa rasakan, mungkin saja dalam hati kecil mereka pasti merindukan terangnya cahaya Allah, namun godaan syaitan telah membuat mereka lebih memilih nyaman hidup dalam kegelapan. Mungkin mereka lupa bahwa lebih terhormat mati dalam terangnya cahaya Islam daripada hidup bermandikan kegelapan.

Aku adalah hamba Allah, cintaku kepada langit tak berarti aku tak menginjak bumi. Justru langit mengajarkanku dengan hujan yang membasahi bumi dan menumbuhkan benih yang beristirahat dalam gelap. Cinta kepada Allah selalu menghadiahkan dua hal pada hamba, yaitu lidah dan airmata. Yang dengan itu beruntung dapat menyampaikan kata demi kata dalam Kitab Suci, dan airmata bagiku untuk  tersungkur takut dalam tahajjudku dan mengingat matiku yang mungkin akan tiba sebentar lagi.

Kita berharap, semoga para pengemban dakwah mampu menggapai kemuliaan dan cahaya Islam di bulan Ramadhan ini. sungguh sebuah perkataan para pengemban dakwah itu bagaikan oksigen yang mampu menyambung nafas kehidupan orang banyak. Dan menghindarkan ummat dari kerusakan yang paling rusak. Pantaskah seorang pengemban dakwah berkeluh kesah dalam dakwahnya padahal Rasulullah selalu bersemangat menjalankannya?. Logam pun akan berkarat seiring waktu berlari, namun emas tetaplah emas. Waktu adalah satu-satunya pemisah antara keistiqamahan dan yang ditinggalkan. Kita berharap ramadhan kali ini menjadi momentum perubahan hakiki. Bukan sekadar sebulan dua bulan. Tapi untuk selama-lamanya. Tentunya perubahan yang kita kehendaki adalah perubahan menuju yang lebih baik…

Wallahu a’lamu bi ash-shawab []

riknasRiki Nasrullah | twitter: @NasrullahRiki | surel: rikinasrullah5@gmail.com | weblog: http://rikinasrullah.blogspot.co.id | telp./sms/wa/line: 085720757426 | Anggota Pemuda Muslim Kab. Sukabumi