Taufiq Ismail Ungkap Pembantaian oleh PKI pada September 1948

Jakarta (Suara-Islam) — Budayawan senior, Taufiq Ismail mengungkapkan sebagian sejarah pembantaian yang dilakukan oleh anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948. Hal tersebut ia ungkapkan saat acara talkshow di salah satu televisi nasional, Selasa (29/9) lalu.

Taufiq menceritakan penjagalan yang terjadi sesudah Republik Soviet Indonesia diproklamirkan oleh Muso pada tanggal 18 September 1948. Keesokan harinya terjadi penjagalan di sejumlah daerah.

“Tanggal 19 September sebuah Blumbang (lubang besar) sudah disiapkan di perbatasan Madiun. Kemudian Kyai-kyai, santri, pamong praja, tokoh masyarakat digiring kesana dan kemudian disembelih,” ungkapnya.

Kemudian, kata Taufiq, Masaker ini berlanjut ke Soco, Cigrok, Gorang Gareng, Tanjung, Magetan, Takeran, Rejosari (pabrik gula), Bangsri, Dukuh Sedran, Geni Langit, Lembah Parang, Nglopang, Dungus, Kresek, Mangkujayan, Batokan, Jeblok, Randu Blatung, Blora, Pati, Wirosari, Donomulyo, dan Tirtomoyo.

“Ada yang dibunuh 25 sampai 100 orang-orang anti komunis, ini ditulis di buku lubang-lubang pembantaian,” katanya.

“Disebuah sumur, algojo PKI merentangkan tangga, lalu Bupati Magelang Bupati Magetan dibaringkan diatasnya, kemudian perutnya digergaji, daging darah ususnya bersebaran. Dan dua potong jenazah dilemparkan ke dalam sumur,”

“Warga desa di Pati dan Wirosari itu ditusuk bambu runcing tubuhnya, mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang dari mereka wanita ditusuk (maaf) “itu” nya sampai tembus dan ditancap di tengah sawah,” lanjut Taufiq.

Menurutnya, tragedi ini penting sekali diungkap, untuk membantah tuduhan seolah-olah yang melanggar HAM hanya rakyat yang anti komunis pasca 1965. (yh)

Sumber : Suara-Islam.com