Urgensi Persatuan Dalam Ummat Islam

Oleh : Muhammad Kasman

Meskipun perbedaan adalah rahmat dan menjadi ladang mendulang manfaat, namun perselisihan tentulah pintu mudharat yang mengundang laknat.

Maka ikhtiar untuk senantiasa mendorong persatuan ummat tak boleh terhenti, apapun rintangan dan halangannya. Harapan akan persatuan tak boleh hilang dari memori ummat, seberat apapun jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkannya.

Bahkan, Allah SWT di dalam Al-Quran menyatakan kecintaannya kepada mereka yang menegakkan agama Allah di atas pondasi persatuan ummat, “Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, ibarat bangunan yang kokoh.” (QS. 61:4).

Pernyataan ini seharusnya menjadi motivasi utama dalam upaya kita untuk menjaga asa persatuan.

Rasulullah membina agama ini di atas pondasi yang sama, persatuan. Dengan telaten, sebagai pemimpin ummat, Rasulullah memintal benang persatuan antara kaum Muhajirin (mereka yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan kaum Anshar (penduduk asli Madinah yang menerima kaum Muhajirin dengan tangan terbuka dan lapang dada).

Masyarakat Arab jahiliah yang sebelumnya saling bunuh karena perbedaan suku dan kabilah, diikat dengan tali iman dan persaudaraan di dalam Islam, ukhuwah islamiyah.

H.O.S. Tjokroaminoto—guru dari para pendiri bangsa ini, secara tegas menempatkan persatuan ummat sebagai Program Azas pertama dan utama yang harus ditegakkan oleh Sarekat Islam—organisasi pergerakan nasional terbesar yang pernah ada di negeri ini.

Bagi Tjokroaminoto, persatuan ummat adalah modal utama untuk melahirkan persatuan bangsa.

Pada suatu kesempatan, Tjokroaminoto berseru lantang, “Kita mencintai bangsa kita dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita, …dan meminta segala sesuatu yang kita anggap dapat memperbaiki bangsa kita, tanah air kita, dan pemerintahan kita.”

Selain sebagai hal yang demikian dicintai oleh Allah SWT, persatuan merupakan hal yang diperintahkan oleh-Nya. “Dan berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (di zaman Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian (karena nikmat Allah) orang-orang yang bersaudara.” (Q.S. 3:103).

Lalu mengapa kita harus bersatu? Kenapa persatuan ummat itu begitu urgen? Hal itu karena, secara internal, perpecahan dan bermusuh-musuhan adalah kondisi yang begitu mengkhawatirkan.

Allah memberi perumpamaan untuk kondisi ini, “Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka.” (Q.S. 3:103). Maka Allah menyelamatkan manusia dari kondisi sedemikian melalui nikmat persatuan.

Secara eksternal, persatuan ummat menjadi penting, sebab musuh-musuh Islam, mereka yang menentang kemajuan ummat, juga senantiasa berkonsolidasi, saling membantu, dan membangun front persatuan di antara mereka, “Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain.” (Q.S. 8:73).

Untuk menghadapi itu, maka ummat Islam juga dituntut meluruskan shaf dan merapatkan barisan, bukan hanya ketika akan shalat berjamaah, melainkan juga ketika menghadapi musuh.

Dengan persatuan yang kokoh, ummat Islam akan lebih mudah untuk mewujudkan kemerdekaan di bidang politik, kemandirian di bidang ekonomi, dan melahirkan karakter khas dalam berkebudayaan.

Dengan demikian, maka lahirnya Islam bertamaddun, Islam berperadaban bukan hal yang mustahil. Semua itu dimulai dari langkah pertama: mewujudkan persatuan ummat. Semoga.

Muhammad Kasman | twitter: @KasmanMcTutu | surel: kasmanku@gmail.com | weblog: http://kasmanpost.blogspot.com | telp./sms/wa/line: 082293716538 | pin bbm: 321ced75