Kongres Nasional (NATICO) CSI KE VII

Pada tanggal 17 – 23 Pebruari 1923 telah dilangsungkan Kongres Nasional (Natico) CSI ke VII bertempat di Madiun. Dalam Kongres ini susunannya sangat panas sekali, akibat pertentangan yang terjadi di kalangan SI, baik dipusat maupun di cabang-cabang, sebagai kelanjutan dari pertentangan dalam kongres nasional ke VI di Surabaya, dikarenakan adanya disiplin partai yang diputuskan dalam kongres di Surabaya tersebut. Dan sebagai akibat dari adanya partai disiplin tersebut maka timbullah SI. MERAH dan SI. PUTIH. Kongres Nasional CSI ke VII memutuskan, memperkuat disiplin partai tersebut, dengan demikian berarti tindakan pembersihan dikalangan Syarikat Islam Indonesia sebagai kristalisasi dalam tubuh SII untuk membersihkan anasir-anasir yang tidak bertanggungjawab. Dalam hubungan ini Ketua OS Cokroaminoto menegaskan bahwa SII sedang mendapat sakit, sedang obatnya yang paling manjur hanyalah SOSIALISME. Tetapi sosialisme yang dimaksud oleh Syarikat Islam Indonesia ialah sosialisme pemberian Allah untuk hamba-Nya, yaitu sosialisme yang semata-mata berdasarkan/berasaskan Islam. Selanjutnya diputuskan oleh Kongres, bahwa mulai itu waktu (tahun 1923) semua lokal-lokal dan Central Syarikat Islam dijadikan partai politik, dengan nama PARTAI SYARIKAT ISLAM HINDIA TIMUR. Mulai itu waktu diadakan gerakan wanita dikalangan SI dengan nama SI WONODOYO. Sementara itu semangat ke-lslaman semakin tambah mendalam, membawa ASAS PAN ISLAMISME dan turut membicarakan soal Khilafah. Sehabis kongres Nasional CSI ke VII mulai dengan giat dilangsungkan Provinciale Congressen (Kongres wilayah) di Kalimantan dan Sulawesi, dengan hasil yang menggembirakan.