Kongres Nasional (NATICO) CSI Pertama

Mengingat ketika itu semacam kebangsaan (nasional) dikalangan bangsa kita belum mendalam bahkan masih terasa adanya pengaruh kesukuan, seperti: perasaan suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Kalimantan, Bugis, dan lain-lain, maka oleh pimpinan Central Syarikat Islam Indonesia diusahakan berlangsungnya suatu National Indisce Congres atau disingkat NATICO yang berlansung di Bandung, langgal 17 sampai 24 Juni 1916. Dalam kongres Nasional (NATICO) Central Syarikat Islam Indonesia pertama tersebut, yang dipimpin oleh OS Cokroaminoto telah dapat ditanamkan rasa kebangsaan Indonesia. Kongres Nasional tersebut dikunjungi oleh 80 utusan lokal Syarikat Islam Indonesia yang mewakili 360.000 anggota SII diseluruh Indonesia. Sebagai pergerakan perintis, yang sedang merintis jalan kearah kemerdekaan bangsa dan tanah air, memang tidak heran, apabila didalam kongres tersebut terdengar suara, bahwa pergerakan CSI tidak bermaksud untuk menghilangkan Gubernemen. Sungguhpun demikian, ditegaskan dalam kongres tersebut, bahwa: Walaupun bagamana juga rakyat harus bekerja sendiri untuk menetapkan nasib dan peruntungannya. Dalam Pidato pembukaan Kongres Nasional tersebut dinyatakan suara-suara hasrat dan keinginan rakyat, yang telah sekian lamanya terpendam didalam kalbu masyarakat, antara lain pernyataan tentang adanya kepincangan dan ketidak adilan dalam soal penghidupan, serta tuntutan rakyat untuk mendapakan hak-hak politik sebagai alat perjuangan. Demikianpun kesengsaraan dan penderitaan rakyat, terutama rakyat yang tinggal ditanah-taimh partikelir, dikemukakan keluh kesah itu dalam Kongres tersebut. Juga nasib kaum buruh di onderneming- onderneming, baik di onderneming -onderneming yang ada dipulau Jawa atau yang ada di luar pulau Jawa, demikian pula keberatan rakyat akibat adanya peraturan rodi dan heerendienst diperbincangkan secara mendalam dalam Kongres tersebut. Juga disampaikan tuntutan rakyat, agar supaya berpemerintahan sendiri, pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemilihan Umum bagi rakyat untuk memilih wakil-wakilnya secara bebas. Selain dari itu, Kongres menuntut perluasan dibidang pengajaran, antara lain dengan menuntut diajarkannya rupa-rupa ilmu kejuruan, seperli ilmu pertukangan, ilmu pertanian dan ilmu perdagangan. Demikian antara lain tnntutan-tuntutan dan suara-suara yang dilahirkan dalam Kongres Nasional (Natico) pertama itu. Perlu ditambahkan disini, selain bertambah banyak jumlahnya lokal-lokal dan anggota-anggota Syarikat Islam Indonesia diseluruh Indonesia ketika itu, juga tidak sedikit dari kalangan ulama dan intelek yang berduyun-duyun masuk menjadi anggota Syarikat Islam Indonesia sehingga dalam tubuh Syarikat Islam baik dipusat maupun di daerah-daerah, selain terhimpun unsur-unsur Islam, juga terdapat unsur-unsur nasional dan non Muslim.

Sehabis Kongres Nasional (Natico) pertama;, maka pada tanggal 8 September 1916 Ketua OS Cokroaminoto dan Sekretaris Sosrokardono, sebagai pimpinan Central Syarikat Islam, telah menandatangani sebuah ,Akte Notaris, dimana dicantumkan didalamnya, bahwa Central Syarikat Islam akan berdaya upaya untuk mencapai kemerdekaan politik bagi Indonesia, dengan jalan kerjasama deugan Belanda dan dibawah perlindungan kerajaan. Selanjutuya ditegaskan dalam akte notaris tersebut, bahwa pertahanan Indonesia yang kuat memang sangat diperlukan, telapi jika kewajiban unluk menjadi milisi itu akan di tetapkan. maka hendaknya dilakukan seiring dengan pemberian hak-hak politik kepada rakyat dengan seluas-luasnya. Sementara itu kepada saudara Abdul Muis yang akan menjadi deputasi ke Nederland ditegaskan untuk menyampaikan tuntutan Central Syarikat Islam tersebut. Selanjutnya dalam Komite Nasional Indie Weerbaar yang terdiri dari bermacam-macam perkumpulan, yang bermaksud menyambut datangnya Volksraad yang akan diadakan oleh pihak pemerintah kolonial, maka pihak Central Syarikat Islam-pun ikut serta menjadi anggota.