• Home »
  • Berita »
  • Meluruskan Sejarah Kebangkitan Nasional, Pesan Milad SI Indonesia ke-113

Meluruskan Sejarah Kebangkitan Nasional, Pesan Milad SI Indonesia ke-113

Oleh Dr.KH.Asep Achmad Hidayat

Wakil Presiden Lajnah Tanfidziyah SI Indonesia

sejarawan UIN SGD Bandung

Jakarta, SII.OR.ID — Organisasi Syarikat Islam Indonesia (SI Indonesia) merupakan kelanjutan dari Syarikat Dagang Islam (SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta tanggal 16 Oktober 1905, tiga tahun sebelum perkumpulan menak/bangsawan/priyayi Jawa, Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada 20 Mei 1908 M.Budi Utomo didirikan oleh dr.Soetomo dan para mahasiswa STOVIA, yaitu Goenawan Mangoenkoesomo di Jakarta/Batavia.Perkumpulan Budi Utomo digagas oleh dr.Wahidin.Jaringan sosial perkumpulan Budi Utomo terbatas pada subkultur regional (Jawa, tidak menasional)serta subkultur priyayi/bangsawan/menak sehingga Budi Utomo mengalami keterbatasan dalam memobilisasi anggota.Golongan-golongan tanpa identitas subkultur tersebut dengan sendirinya ada di luar jangkauannya.Reaksi dari golongan itu kemudian terwujud  dalam pembentukan organisasi sejenis yang kesemuanya merupakan manifestasi dari identitas golongan masing-masing , baik identitas subkultur etnis maupun subkultur kelas atau golongan sosial.Sebut saja Yong Sumatera, Yong Ambon, Yong Selebes(Sulawesi), Paguyuban Pasundan, Minahasa dst.

Ini berbeda dengan Sarekat Islam, mampu  menembus suku-suku di seluruh Nusantara.Hal ini karena semangat ke-Islaman dan kerakyatan yang dibawa perkumpulan ini. Seperti diketahui SDI (1905) berubah menjadi Sarekat Islam ( SI)  pada kongres SDI di Solo tahun 1906 M.Pada tanggal 10 September 1912 HOS Tjokroaminoto, sebagai pemimpin SI  menghadap notaris B.ter Kuile di Solo mengajukan SI berbadan hukum, pada tanggal 14 September 1912 organisasi SI disahkan oleh Pemerintah Belanda.HOS Tjokroaminoto mengubah yuridiksi SDI lebih luas yang dulunya hanya mencakupi permasalahan ekonomi dan sosial ke arah politik dan agama guna membangkitkan rakyat Indonesia menentang kolonialisme dan implemerialisme.Tahun 1916, SI berubah menjadi Central Sarekat Islam (CSI). Sarekat Islam sejak berdirinya bercita-cita menyatukan seluruh penduduk di Nusantara sebagai suatu bangsa yang berdaulat /merdeka.Pada, 17 Juni  1916, di Gedung Pertemuan Concordia (sekarang gedung Merdeka) dalam kongres pertama CSI yang dihadiri 800.0000 anggota dari 180 cabang/lokal seluruh Nusantara, Central Sarekat Islam melalui kalimat berapi-api , menggema, berat bariton dari pidatonya sang Pemimpin anak bangsa HOS Tjokroaminoto menuntut pemerintahan sendiri.Begini kata-katanya , “Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan zelfbestuur atau pemerintahan sendiri……….supaya Hindia lekas  dapat pemerintahan sendiri.

National Congres (Natico) Central Sarekat Islam yang pertama ini menjadi penting , sebab inilah kegiatan besar pertama di era pendudukan Belanda , menghimpun kaum pergerakan bumi putera dari seluruh Nusantara (terkecuali dari Semenanjung juga hadir), lalu dengan berani menyebut natie ( kebangsaan) dan zelfbestuur (pemerintahan sendiri atau berdaulat atau merdeka dari penjajahan). Dengan dilandasi spirit Islam, HOS Cokroaminoto berteriak garang menuntut Pemerintahan sendiri.”Kita mencintai bangsa kita dan dengan kekuatan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita,…… dan meminta segala sesuatu yang kita anggap memperbaiki bangsa kita, tanah air kita dan pemerintahan kita”. Demikian kata HOS Cokroaminoto.

Jika kita mau jujur pada sejarah, kita layak mengakui bahwa SDI/SI-lah organisasi pertama yang menggelorakan semangat nasionalisme bukan Budi Utomo, tanggal 16 Oktober lah itu hari “Kebangkitan Nasional”. Dan jika kita mau jujur juga terhadap sejarah , kita layak pula mengakui bahwa proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1945, merupakan buah dari apa yang diteriakkan Cokroaminoto, mertuanya, pada 17 Juni 1916 di Bandung “Hak untuk memerintah sendiri sosial hidup atau mati bagi Hindia.Bila tuntutan hidup tersebut tidak dipenuhi, maka Hindia tentu akan binasa”, Seru Cokroaminoto hari itu.

Dalam perkembangan selanjutnya CSI berubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) tahun 1920, Partai Sarekat Islam Hindia Timur (PSIHT) tahun 1923, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), dalam MajlisTahkim Luar biasa 1972 menjadi Syarikat Islam (PSII), dalam MajlisTahkim Luar Biasa di Garut tahun 2003 berubah nama menjadi Syarikat Islam Indonesia (disingkat SI Indonesia).

Dalam Majlis Tahkim Ke-38, tanggal 27-29 Oktober 2017 bertempat di Gedung Asrama Haji Jakarta, telah menghasilkan kepengurusan DPP Syarikat Islam Indonesia (SI Indonesia) sebagai berikut:
DEWAN PUSAT
Presiden : KH.Muhit Al Adam
Wapres : Fery Aspari
Wapres : H.Arif Istana
Sekjen : H.Mulyadi Shaleh
Wasekjen: Drs.Salam Ismail
Wasekjen: Drs. Muhammad Maulidin AB.
Bendahara: H.Thamrin bin Bahar.

LAJNAH TANFIDZIYAH
Presiden : KH.Muflich Chalid Ibrahim, SE
Wapres : Asep Salim Tamim , SH, M.H
Wapres : Dr.H.Didi Supriadi, SH, M.M
Wapres : Dr.KH.Asep Achmad Hidayat
Wapres : Dr.Banu M.Haidlir, SE, M.SE
Sekjen : Ir. H. Rahandani
Wasekjen : H.M.Muhtadin Sabili, ST
Wasekjen : H.B.M.Mukhlish, SE, M.S.M
Wasekjen : Imam Tahyudin,S.Ip,M.Si
Wasekjen : M.Azizi Rais, S.Pd.I, M.Pd.I
Bendahara : Drs.H.E.Hapid Mudjaeri, MPd

Selamat Milad SI Indonesia Ke- 113, Terus berjuang untuk mencapai Kemerdekaan Sejati, bergerak terus dengan Tauhid, Ilmu dan Syiasah.

Billahi Fie Sabililhaq.