Membuka Catatan Sejarah Gunung Agung yang Bikin Soekarno Kagum

Merdeka.com Toko Buku (TB) Gunung Agung resmi menutup tokonya di Bandung Indah Plaza. Pengumuman tersebut disampaikan pengelola toko buku tersebut lewat akun Twitternya sejak Senin (23/5) lalu.

Sontak saja kabar penutupan tersebut membuat heboh jejaring media sosial. Namun, pengelola memastikan beberapa gerai lainnya di Kwitang dan seluruh Indonesia tetap buka seperti biasa.

Sejak Belanda resmi menyerahkan kedaulatannya kepada Indonesia, toko buku ini telah mewarnai perjalanan bangsa. Keberadaannya membuat Bung Karno bangga, dan memberdayakan Gunung Agung sebagai ujung tombak pendidikan nasional.

Gunung Agung berdiri pada 13 Mei 1951, oleh Tjio Wie Tay atau dikenal dengan nama Masagung. Pertama kali berdiri, toko buku tersebut diberi nama Tjio Wie Tay yang berarti Gunung Besar. Selang beberapa tahun kemudian, namanya diubah menjadi Gunung Agung.

Ternyata, toko yang didirikannya berkembang pesat, berbagai pesanan mereka terima, termasuk dari luar Jakarta. Tak puas dengan perolehan yang ada, dengan modal Rp 500 ribu, Masagung menggelar pameran buku, ternyata hasilnya sangat memuaskan. Pameran ini 8 September 1953 yang kemudian ditetapkan sebagai hari kelahiran Gunung Agung.

Setelah beberapa kali menggelar pameran, tepatnya tahun 1954 Masagung atau Wie Tay bertemu dengan Soekarno dan Bung Hatta untuk pertama kalinya, dan langsung dekat saat itu juga. Setelah pertemuan tersebut, Bung Karno membuat tokonya yang dibangunnya berkembang dengan pesat.

Usai pertemuan itu, Gunung Agung selalu digandeng pemerintah untuk menggelar pelbagai pameran buku tingkat nasional di kota-kota lain, mulai dari Medan, Yogyakarta, hingga ke Malaka dan Singapura. Tahun 1963, untuk pertama kalinya Gunung Agung memiliki gedung sendiri di Jl Kwitang nomor 6, bertepatan dengan HUT Gunung Agung ke-10. Hari yang istimewa tersebut juga dihadiri langsung oleh Bung Karno.

Ada pesan dari Bung Karno, yang kemudian membuat Masagung semakin bersemangat mengembangkan usahanya. “Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan,” ujar Bung Karno.

Sejak itu, Masagung terus menerbitkan sejumlah buku-buku baru terkait perjuangan bangsa Indonesia, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi (2 jilid), Biografi Bung Karno tulisan wartawan AS, Cindy Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (5 jilid), serta sejumlah buku tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku Bung Karno inilah yang membawa Gunung Agung menanjak.

Bantuan Bung Karno tidak berhenti di situ. Bung Karno juga meminta Gunung Agung mengisi kebutuhan buku bagi masyarakat Irian Barat saat Trikora. Masagung lalu kemudian mengadakan pesta buku di Biak, Marauke, Serui, Fak Fak, Sorong, dan Manokwari.

Tugas yang sama kembali diemban untuk masyarakat Riau dalam rangka Dwikora. Bukan cuma di Indonesia. Masagung juga agresif membangun jaringan di luar negeri. Tahun 1965, dia membuka cabang Gunung Agung di Tokyo, Jepang. Lalu mengadakan pameran buku Indonesia di Malaysia awal 1970-an.

Kepak sayap bisnis Masagung tidak sebatas toko buku dan penerbitan. Dia juga merambah bisnis lain.

Dia tercatat mengelola bisnis ritel, bekerja sama dengan Departement Store Sarinah di Jl MH Thamrin, lalu masuk ke Duty Free Shop, money changer, dan perhotelan. Kini juga mengageni pena Parker, rokok Dunhill, dan Rothmans, majalah Time, sampai komputer Honeywell. Ia juga mendirikan PT Jaya Bali Agung, sebuah perusahaan pariwisata. Ia juga pernah menjadi Direktur PT Jaya Mandarin Agung, pengelola Hotel Mandarin, Jakarta, sebuah usaha patungan dengan Hong Kong. (yh)

merdeka.com